Belajar ‘egois’ yuks!

iih, itu maksud judul di atas apa sih? kok malah disuruh belajar egois sich?

Orang yang egois kita pahami sebagai orang yang hanya mementingkan diri sendiri, sehingga ia tidak mau atau tidak mampu untuk memikirkan orang lain (apakah kita memiliki definisi operasional yang sama untuk orang egois? :))

Egoisme merupakan sifat dasar manusia, kalau mau jujur kita lebih sering  mendahulukan memikirkan diri kita terlebih dahulu dibandingkan orang lain. Kalau kita melakukan sesuatu, apakah ada manfaatnya untuk kita? apakah kita akan dirugikan? apakah ada resiko yang harus saya tanggung? Pokoknya … sebagian besar tindakan dan keputusan kita adalah subyektif – alias tolok ukurnya adalah diri kita sendiri!

Jadi .. menjadi egois tidak perlu belajar donk … dan bukankah kita harusnya justru menghilangkan egoisme itu sehingga menjadi manusia yang lebih baik dan mampu berkontribusi dengan optimal untuk keluarga, masyarakat, serta negara dan bangsa kita?

Saatnya mengajukan cara berpikir baru (ha ha ha, gaya!!) Kita pasti sudah tahu kalau tindakan yang kita lakukan (apapun itu) akan membawa dampak kepada orang-orang di sekitar kita? TETAPI … sadarkah kita, kalau apapun yang kita lakukan akan KEMBALI juga kepada kita?

Cara pikir ini aku dapatkan ketika lagi kesal dengan suami; saking kesalnya, aku tidak mau bicara. Orang bilang ‘mutung‘ alias ‘ngambeg‘. Ditanya, diajak bicara apapun, aku tidak mau memberikan respon. Sayangnya, hari itu kondisi emosi suami juga tidak baik, banyak pekerjaan kantor, masalah yang kompleks … komplit deh!! Alhasil, karena diperlakukan seperti itu yang ada dia marah besar. Saking marahnya, kita jadi ‘ngambeg-ngambeg‘-an. Kalau sudah begitu, bikin emosi makin ga keruan; sedih, marah, kesel .. nyampur blek!! Kalau aku berpikir ‘egois’ – aku tidak mau merasakan emosi negatif yang makin tidak jelas, mungkin aku akan lebih bijaksana dalam berespon terhadap suami. Bagaiman suami tidak marah karena tanpa penjelasan langsung aku ‘cuek‘-in. Yang ada aku bukan dirajuk malah di‘cuek‘-in balik. hiks hiks.

Belajar dari pengalaman itu; cara berpikir ‘egois’ ini jadi membuat aku lebih bijaksana dalam bertindak.

Coba kita pikirkan hal berikut:

  1. Kalau kita bekerja asal-asal saja, pernahkah terpikir kalau kemudian tidak hanya karyawan dan perusahaan saja yang dirugikan, tetapi diri kita juga. Perusahaan tidak berjalan, dan ujung-ujungnya juga kita kehilangan pekerjaan kita.
  2. Kita buang sampah sembarangan saja lha .. apa artinya sampah kecil kita, tetapi semua orang berpikir yang sama, kemudian banjir-nya ikut ‘mendatangi’ rumah kita. Kita juga yang rugi bukan?
  3. Ikut demonstrasi tanpa pikir panjang, blok jalan raya, ikut bikin rusuh, semua aktivitas kerja tidak dapat berjalan dengan baik. Kemudian investor enggan investasi di Indonesia karena banyak demo dan rusuh, yang akibatnya perekonomian tidak berjalan, ujung-ujungnya juga berdampak ke diri kita sendiri .. ekonomi ikut sereeeet

Kalau mau didaftarkan semua puaaaaaanjang deh … tetapi intinya, kalau kita memikirkan kebaikan dan kesejahteraan diri kita (katanya ‘egois’) ;   maka, kita perlu berpikir lebih bijak, bagaimana tindakan kita atau respon kita bisa berdampak ke orang lain yang nantinya juga PASTI akan berdampak kepada kita.

Siap buat belajar ‘egois’?

Segala tindakan kita, dampaknya akan selalu kembali kepada diri kita sendiri!

Advertisements