Memangnya ‘rumput tetangga’ selalu se’ijo’ yang kita lihat?

Belakangan ini punya banyak banget kepengenan. Pengen bisa pinter buat fotografi, pengen bisa pinter buat bisa ngomong bahasa asing lain selain bahasa inggris (haha, padahal bahasa inggris aja gagap kalau ngomong wkwkwk). Kalau sudah punya keinginan begini, rasanya suka sirik ama yang pinter buangeeeeeet dalam hal yang dipengenin :).

Soal keinginan terkadang (atau seringkali ya?) membuat kita melihat kehidupan orang lain lebih ‘hijau’ ; “asyik ya, dia bisa begitu, bisa begini, punya ini dan punya itu'”. Kalau istilah yang terkenalnya: “rumput tetangga selalu lebih hijau”, tetapi benarkah demikian adanya? Nyatanya tidak lho!

Saya punya teman yang saya ‘lihat’ memiliki ‘hijau’nya hidup; pintar, suami ganteng dan baik, berkecukupan sandang, pangan dan papan, anaknya caem. Menurut saya, hidupnya pasti sempurna sekali … sampai saya menemukan sendiri bagaimana ia diperlakukan oleh mertuanya – ga beda sama perlakuan si mama mertua ke pembantu, busyet!! (ga jadi ‘sirik’ deh hehehe).

Kalau kita mau telusuri, sifat manusia yang mendasar memang melakukan komparasi; berusaha mencari tahu bagaimana posisinya dibandingkan dengan orang-orang di sekitarnya; “saya dan si anu lebih cantik siapa?”; “saya dan si itu lebih kaya siapa?” ; “saya di antara teman-teman saya siapa yang paling berhasil?” (benar atau betul??? hayoo ngaku sendiri :D).

Sayangnya, efek komparasi ini dahsyat banget! Komparasi ini, yang sering timbulkan rasa iri apabila kita menemukan diri kita tidak se’hijau’ teman-teman kita. Penyebab yang membuat banyak orang mementingkan gengsi di atas segalanya; hutang sana-sini  demi barang bermerek dan status sosial. Akhirnya .. komparasi bisa juga jadi faktor pemicu kriminalitas. Dalam skala kecil-nya, komparasi ini membuat kita beremosi negatif, merasa tidak puas, merasa hidup tidak adil dan merasa tidak puas atas hidup yang kita jalani, atau membuat kita membicarakan orang lain (karena sirik tentunya). Membuat kita selalu merasa kurang tidak dapat melihat dan syukuri untuk apa yang sudah kita miliki.

Pernah kenal istilah ‘SMS’? Bukan Short Message Service, tetapi ‘Senang Melihat orang lain Susah’ atau ‘Susah Melihat orang lain Senang’. Mungkin kita pernah mengalami sindrom ‘SMS’ tersebut sesekali – tetapi jangan coba-coba diterusin. Yang ada akan membuat kita hopeng-an (alias BFF – best friend forever) ama iblis!

Obat mujarab buat nangkis sindrom penyakit ini adalah – contentment (susah cari terjemahannya, tetapi artinya rasa puas, rasa cukup), dan ini bukan hal yang mudah pastinya!! kalau dari saya resepnya sih gampang, ngejalaninnya yang butuh perjuangan :). Simak yuks:

  1. “Syukuri apa yang kita miliki” Ganti fokus kita untuk menghitung berkah apa yang kita miliki. Kalau kita memperhatikan hanya apa yang dimiliki orang lain, mustahil kita bisa merasa puas dan cukup!
  2. Hindari membuat perbandingan alias komparasi. Hidup ini penuh dengan trade-off  karena tidak mungkin tiap kita bisa memiliki segala sesuatu (nanti malah jadi lupa bersyukur .. karena ga berasa butuh sapa-sapa termasuk TUHAN .. bahaya kan?) Setiap orang juga memiliki berkah dan masalahnya masing-masing. Andaikan kita melihat orang lain yang tampak lebih ‘hijau’, saya berani jamin, belum tentu se’ijo’ yang kita lihat. Jadi … ndak usah minta tuker hidup kita dengan hidup orang lain. Kata orang bijak, setiap orang memiliki kesusahannya masing-masing.

Kalau kita fokus untuk mengurus rumput kita sendiri, mungkin kita akan lupa untuk melihat rumput tetangga kita … jadi, lebih baik arahkan energi kita untuk ‘ijo-in’ rumput kita sendiri yuks 🙂

Jangan berlaku seperti orang yang bodoh, dikasih hujan minta panas, begitu ada panas, mengeluh untuk minta hujan! Selalu maunya yang tidak ada !

Advertisements