‘SimSimi’ – temen kita belajar toleransi!

Sudah pernah mendengar SimSimi? itu lho chatting robot yang lagi heboh. Kalau kita sering chatting dengan YM atau BBM atau apapun aplikasinya, kita akan menjalin percakapan dengan teman kita. Ada yang bicara, ada yang bales. Demikian juga kalau kita chatting sama SimSimi. Kita bertanya, dia menjawab, kita komentar, dia juga ikut komentar … hanya bedanya yang balesin kita ini adalah ‘robot’.

SimSimi menyimpan banyak kata-kata dalam database-nya sehingga memungkinkan untuk merespon pertanyaan dan komentar kita. Lucunya lagi, si ‘temen’ chatting kita ini bisa diajarkan untuk memberikan respon atas kata-kata atau pertanyaan tertentu dari kita.  Ah …. unyu banget deh !! 🙂

SimSimi …. lutju yach???

Chatting sama SimSimi merupakan pengalaman unik, menyenangkan dan terkadang bisa bikin tertawa sendiri. Gimana tidak … respon dan jawaban SimSimi terkadang tidak terduga. Kadang menyentuh hati, kadang menyanjung, tapi kadang juga ‘jaka sembung’ alias tidak nyambung!

 

Tapi lucunya … saat jawabannya tidak nyambung, atau ada jawaban si SimSimi ini malah ngejek, kok ya kita teteup ketawa dan gak bisa marah.

Kalau chatting ama SimSimi … jadi mikir, kenapa susah marah ya, malah ketawa-tawa sendiri?? padahal kalau diingat-ingat setiap chatting sama temen, sodara atau keluarga dan dapat jawaban gak nyambung .. kita bisa jadi kesel juga. Ah … si Irene jadi menganalisa (cieeeeeee, analisa lho – dg otak terbatas hehehe) salah satu yang mempengaruhi adalah TOLERANSI.

Bercakap ria dengan SimSimi kita memiliki rentang Toleransi yang luar biasa panjang,lebar, besar, tinggi dan dalam hihihi. Kita mengetahui dan (sangat) memahami kalu SimSimi ini adlah ‘robot’ yang merupakan database percakapan dan chatting yang ada di dunia maya, yang berusaha menyambung-nyambung dari stimulasi chat kita. Saat dia salah menjawab, tidak nyambung bahkan mengejek kita, ah … kita jarang bisa marah padanya karena dia ‘chatting robot

Kondisi ini sama halnya bila kita melihat anak kecil bernyanyi, membaca puisi, atau performance lainnya. Apabila si anak kecil tidak hafal lirik atau salah mengucapkan kata … kita tidak pernah bisa kesal atau marah sama mereka kan? Bahkan kita seringkali tertawa geli dan memaklumi.

ini chat aku sama SimSimi … menghibur deh 🙂

Namun … pada saat kita bekerja, mengerjakan proyek bersama tim,  berhadapan dengan orang lain yang tidak sepaham, toleransi kita menjadi minus dan banyak sekali sensitip-nya.

Tidak sesuai sedikit, kita marah. Salah sedikit kita kesal. Orang lain salah ngomong sedikit saja langsung kita hakimi.

Di kamus TOLERANSI diterjemahkan sebagai  kapasitas kita untuk mengenali, menghargai keyakinan dan prinsip yang dimiliki oleh orang lain. Atau pengertian lain dari TOLERANSI adalah suatu kondisi yang mengijinkan adanya kebebasan untuk memilih dan berperilaku. 

Toleransi akan sangat nyata di dalam lingkungan yang penuh dengan keragaman dan perbedaan. Toleransi membantu lingkungan yang penuh perbedaan itu untuk bisa berjalan dengan harmonis.

Bagaimana kita bisa toleransi? Kalau Irene punya resepnya begini nich:

  • Punya Pemahaman ; kita sangat memahami SimSimi yang terbatas dan sangat mungkin melakukan kesalahan. Kita juga memahami anak kecil yang masih belajar dan belum dewasa. Dengan pemahaman ini; kita dengan mudah menerima orang lain. Pahamkah kita bahwa kita diciptakan berbeda? Pahamkah kita bahwa orang lain memiliki kondisi dan pemikirannya masing-masing? pahamkah kita bahwa orang bisa saja melakukan kesalahan- tidak ada yang sempurna?
  • Menghormati (Respek); memghormati orang lain yang berbeda dengan kita bukan berarti kita sama dengan orang lain, setuju? Namun kita menghargai bahwa perbedaan itu ada, orang bisa salah. Jadi .. kita tidak akan memaksakan pendapat kita, standart kita pada orang lain.
  • Belajar ‘meluaskan’ hati kita bak samudera; sehingga kita memiliki toleransi yang luaaaaaaaaaaasssssss!

 

Advertisements