‘Menebak’ Kepribadian via Urutan Kelahiran

IMG_4489

Irene: “Kamu pasti anak bungsu”

Si A: “Kok Mbak Irene tahu?”

Irene: “Kamu deket sama ibumu dan punya kakak perempuan?”

Si A: “Kakak saya perempuan semua dan saya memang deket banget sama mama. Kok, mbak Irene tahu sih?”

Bagian inilah yang paling aku suka dari profesiku, yaitu “menebak” karakteristik kepribadian tanpa menggunakan alat tes psikologi yang rumit, melainkan hanya dengan mengamati perilaku seseorang. “Tebakan” di atas kutujukan kepada seorang karyawan baru tempat kubekerja yang baru hari itu aku temui dan benar 100%. Mau bisa? Haha, hanya becanda … Tidak sedang promosi kok, justru mau aku infokan rahasianya.

Kita dapat memperkirakan perilaku seseorang dengan mengetahui urutan kelahirannya (anak sulung, tengah, bungsu, atau anak tunggal). Konsep ini digagas oleh Alfred Adler(1870 – 1937), ahli psikoterapis yang menamainya sebagai ‘birth-order’ atau urutan lahir. Bagi yang pengen banget tahu soal Om Adler silakan googling sendiri ya.

Menurut Om Adler, seorang anak memiliki dinamika dalam keluarga masing-masing. Bagaimana cara orangtua memperlakukan anaknya berdasarkan urutan kelahiran dan situasi dalam keluarga akan menjadi penentu reaksi serta respon yang akan menjadi dasar kepribadian kita.

Sekarang ambil contoh, kita adalah anak sulung dan memiliki adik yang masih sangat kecil. Ketika ayah dan ibu kita hendak pergi keluar, biasanya mereka akan menitip amanat bukan? Pada siapa mereka menitipkan amanat? Anak sulung bukan? Dan, amanat apa yang sering dititipkan? “Abang jagain adik ya!”, “Jangan nakal ya!” ditambah dengan titipan-titipan lainnya.

Terasa familiar? Sepanjang masih dianggap sebagai anak, perlakuan ini akan kita alami sebagai anak sulung. Oleh karenanya, jangan heran jika si anak sulung terbiasa dengan orientasi tugas (task oriented) sampai ia dewasa. Bagaimana dengan dinamika anak-anak lainnya? Yuks kita simak satu-satu situasi keluarga secara umum dan bagaimana karakteristik anak pada umumnya.

Posisi Anak

Situasi Keluarga

Karakteristik Umum Anak

Anak Tunggal Kelahirannya merupakan keajaiban. Orangtua tidak memiliki pengalaman sebelumnya (ini situasi yang serupa dengan anak pertama). Anak menerima 200% perhatian baik dari ayah maupun ibu. Terlalu dilindungi dan bisa jadi manja.
  • Suka menjadi pusat perhatian orang dewasa di sekitarnya
  • Lebih dewasa untuk anak seusianya
  • Perfeksionis
  • Terkadang memiliki kesulitan untuk berbagi dengan orang lain
  • Persisten, apa yang diinginkan harus didapatkan
Anak Sulung ‘Disingkirkan’ dari perhatian orangtua oleh adiknya. Harus belajar berbagi. Ekspektasi orangtua biasanya sangat tinggi. Seringkali diminta untuk bertanggung jawab dan diharapkan menjadi contoh bagi adik-adiknya.
  • Dapat diandalkan/selalu merasa bertanggung jawab
  • Penuh Kesadaran
  • Terstruktur
  • Hati-hati
  • Mendominansi
  • Mengejar Prestasi
Anak Tengah Biasanya seperti ‘sandwich’ tertekan oleh kakak dan adik. Merasakan terlupakan karena orangtua akan lebih memperhatikan yang paling besar atau yang paling kecil. ‘Mediator’ bila kakak dan adiknya bertengkar.
  • Berusaha menyenangkan orang lain
  • Sesekali tidak ingin diatur
  • Berjuang untuk mendapatkan teman
  • Memiliki lingkungan sosial yang lebih luas
  • Mengusahakan damai dan harmonisasi, bebas konflik
  • Lebih peka dengan situasi di sekitarnya
Anak Bungsu Memiliki banyak ‘ayah’ dan ‘ibu’ (Ayah dan Ibu sesungguhnya, serta kakak-kakaknya). Anak yang lebih tua berusaha untuk mengajarinya. Selalu dianggap ‘anak kecil’.
  • Menyukai aktivitas yang rekreatif/  kesenangan.
  • Tidak rumit, lebih santai, easy going.
  • Terkadang manipulatif (mendapatkan apa yang diinginkan)
  • Senang bergaul
  • Mencari perhatian
  • Lebih banyak memikirkan diri sendiri/perspektif diri sendiri

Tabel di atas memberi gambaran umum tentang hubungan situasi dalam keluarga dan bentukan kepribadian seorang anak dari urutan kelahirannya. Namun, kita tidak dapat secara mentah-mentah mengatakan, “Kamu pasti anak tunggal! Abisnya kamu manja banget!” Ada faktor-faktor di luar tabel di atas yang memengaruhi situasi keluarga sehingga kepribadian yang terbentuk berbeda.Faktor-faktor yang perlu diperhatikan agar kita bisa “menebak” dengan agak lebih tepat antara lain:

  1. Jenis kelamin; baik jenis kelamin sang anak maupun jenis kelamin kakak dan adiknya memiliki pengaruh yang besar. Misalnya, anak bungsu laki-laki dengan kakak-kakaknya semua laki-laki bisa jadi tidak memiliki sifat manja.
  2. Keluarga yang sudah ‘tercampur’; dua keluarga tinggal dalam satu rumah, orangtua cerai, ayah dan ibu tiri, anak adopsi, dan lain-lain.
  3. Lahir kembar; baik kembar dua, tiga dan seterusnya
  4. Jumlah anak dalam keluarga; misalnya anak bungsu dari dua bersaudara akan berbeda dengan anak bungsu dari tujuh bersaudara.
  5. Jarak antar anak; perbedaan usia anak juga berpengaruh. Misalnya, anak pertama berusia 11 tahun dengan adik yang baru lahir akan berbeda dengan anak pertama yang berbeda kurang dari 1 tahun dengan adiknya.

Telah banyak penelitian yang dilakukan untuk melihat bagaimana pengaruh urutan kelahiran ini dengan perkembangan intelektual, kondisi kesehatan mental, kondisi fisik bahkan pilihan karir. Dengan era internet sekarang, banyak referensi yang menarik untuk didalami. Monggo ditelusuri!

Nah .. coba sekarang “tebak” kepribadian rekan-rekan sendiri, kemudian sedikit demi sedikit ‘tebak’ kepribadian teman. Selamat ‘menebak’!

References:

Eckstein, D., Aycock, K. J., Sperber, M. A., McDonald, J., Van Wiesner III, V., Watts, R. E., & Ginsburg, P. (2010). A Review of 200 Birth-Order Studies: Lifestyle Characteristics. Journal of Individual Psychology66(4).

Healey, M. D., & Ellis, B. J. (2007). Birth order, conscientiousness, and openness to experience: Tests of the family-niche model of personality using a within-family methodology. Evolution and Human Behavior28(1), 55-59.

 

Advertisements