Keluarga (siapa)?

Kemarin malam (09.06.14); Indonesia diramekan dengan #DebatCapres yang disiarkan langsung di televisi. Tapi, tenang saja … genre blog ini bukan politik temans :). Ada hal yang menarik untuk diperhatikan, yaitu dari sang capres Pak Jokowi. Beberapa saat setelah acara mulai, tampak ada kertas menyembul di jas yang Pak Jokowi pakai.

kertas-di-jas-jokowi

 

 

 

 

 

 

 

(Gambar berasal dari skalanews.com)

Kertas menyembul tersebut sempat ramai diomongin sosial media, mungkin banyak yang sempat berkomentar “Momen sepenting ini, ga boleh sampai ada kesalahan” . Tetapi apa ada yang bisa tebak kira-kira, kertas apakah??

Jokowi_Kertas_Doa_Ibu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ini Screen Capture yang ambil dari akun Twitter saya (dan Tweet aslinya berasal dari Pak @EepSFatah) , dan ternyata kertas itu adalah doa ibu sang capres. So cwittttt 🙂

Waktu saya membaca tweet serta melihat foto ini, saya rasa sejuk di dalam hati. Mengapa begitu? Limpahan dukungan dari KELUARGA tentu menjadi penyemangat meski apapun yang akan kita hadapi.

Saya selalu percaya bahwa KELUARGA merupakan ‘cetakan’ pertama bagi perkembangan dan pertumbuhan seorang anak. Menjadi orang yang seperti apa saat dewasa ditentukan oleh bagaimana ia dibesarkan dalam keluarga dan bagaimana keluarganya. Interaksi intens di dalam keluarga akan membentuk baik-buruk sifat, kebiasaan, cara pikir, nilai-nilai yang dianutnya.

Berbagi pengalaman saat saya memilih calon suami, ada satu hal yang saya ragu dengan calon suami saya waktu itu (#eeaaaa :)) ; ia termasuk orang yang emosional dan keras. Sewaktu hendak memutuskan menikah, saya sering bertanya-tanya “Apakah ia akan mengerti saya?” “Apakah ia bisa melakukan tindakan kekerasan karena emosionalnya?” “Apakah ia mungkin ia berubah tidak emosional setelah menikah?” dan pertanyaan-pertanyaan yang lain.

Lalu apa yang membuat saya yakin untuk bersanding dengannya di altar? hmmmm, kasih tahu gak ya ??? 🙂 Jawabannya adalah: KELUARGA-nya. Pria yang sekarang menjadi suami saya merupakan keluarga besar; Ayahnya 10 bersaudara, Ibunya 7 bersaudara. banyak kan??? Mereka semua dekat, rukun dan selalu memiliki waktu untuk berkumpul saat ada acara-acara keluarga. Dan yang membuat saya paling yakin adalah ‘nasehat-nasehat‘  yang disampaikan oleh para om dan tantenya, beberapa di antaranya; “kamu sekarang sudah punya Irene, sabar-sabar sama Irene“;”kamu gak boleh galak sama Irene nanti setelah menikah ya”; “Kamu jagain istrimu nanti, itu jadi tanggung jawab kamu” . Ah …. sudah pasti buat saya yang KELUARGA adalah segalanya this is a BIG YES!!! I do! I do! 🙂

Sampai sekarang setelah 1 dekade pernikahan kami, berkumpul dengan keluarga suami baik di kesukaan maupun kedukaan merupakan kegembiraan untuk saya. Dari keluarga saya sendiri yang kecil sekarang menjadi bagian keluarga yang besar dan luar biasa.

Inspirasi saya untuk menjadi konselor keluarga sehingga saya dapat membantu banyak orang dapat bertumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang penuh dukungan, penuh cinta dan penerimaan, dan saat ia dewasa ia akna menjadi pribadi yang sehat, penuh cinta, penuh penerimaan dan mampu membagi dirinya untuk orang lain (pake cieeeeeee cieeee)

Jadi saya sarankan …. kalau ada yang belum berkeluarga, lekaslah berkeluarga *Lho? haha, ini penting lho!!

Kalau yang sudah punya keluarga? Selalulah berjuang untuk membuat keluarga nya penuh dengan dukungan, cinta dan penerimaan. Sehingga anak-anaknya kelak menjadi pribadi dewasa, sehat mental, penuh cinta!

Atau mungkin ada yang membutuhkan konseling sebelum berkeluarga, atau saat ini ketika telah berkeluarga? *iniaslipromosi haha.

Keluarga no.1 , pilih ……… (Lanjutin sendiri deh ya …. *ketahuanpilihannya) hihi

“You Don’t Choose Your Family. They are GOD’s gift to you, as you are to them!” – Desmond Tutu

 

Advertisements