‘Kepingan’ Hidup

 

Apa yang akan kita lakukan apabila kita memiliki barang seperti cangkir keramik, piring, atau gelas kaca yang telah pecah menjadi kepingan-kepingan? Sebagian besar dari kita akan memasukkannya ke tempat sampah meski terkadang harus dengan berat hati (apabila barang tersebut memiliki arti khusus buat kita).

Mengingat barang pecah belah, beberapa hari lalu saya membaca mengenai #Kintsugi. Kintsugi (yang dalam bahasa jepang 金継ぎ berarti seni menyatukan dengan emas), telah ada sejak abad ke-15. Karya seni yang luar biasa ini bermula dari kisah seorang kaya yang memecahkan cangkir teh keramik kesayangannya. Ia meminta seorang ahli seni untuk menambal pecahan-pecahan keramik tersebut. Setelah ditambal, cangkir teh si kaya menjadi tidak keruan dan bahkan tidak bermanfaat karena tetap tidak bisa digunakan untuk minum teh. Sang ahli seni, demi menyenangkan hati orang kaya tersebut, akhirnya terpikir untuk menambahkan cairan emas di bagian tambalan-tambalan cangkir teh.  Cangkir teh yang tadinya pecah, berantakan, tidak enak dipandang, serta tidak berfungsi menjadi sesuatu yang jauh lebih indah dan bernilai karena memiliki kisah dan cerita di balik ke’retak’kannya

Kintsugia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Uraian mengenai Kintsugi ini, bagi saya mengandung filosofi hidup yang mendalam. Ketika saya menelusuri dunia maya banyak orang yang menyebut pelajaran hidup dari karya seni ini diantaranya; “Menemukan harta dari luka-luka hidup”; “Sembuhkan patah hati dengan emas”; “Mendekap luka hati dan ketidaksempurnaan” “Ketika keretakkan kita menjadikan kita lebih indah” dan lain-lain.

Kintsugi2

“Until you’re broken for awhile, you don’t know what you’re made of. It gives you the ability to rebuild yourself, stronger than ever before” – Unknown

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Untuk saya, ini pembelajaran saya; filosofi hidup dimulai sejak sebuah cangkir keramik diciptakan, sama halnya cangkir yang diciptakan untuk minum, masing-masing kita memiliki tujuan dalam hidup yang harus kita penuhi. Satu dengan yang lain bisa jadi memiliki tujuan yang berbeda. Lalu, di sepanjang kita menjalani ‘fungsi’ kita masing-masing, bisa jadi kita diperhadapkan dengan masalah, sakit, luka, atau beban hidup yang membuat kita ‘hancur’ berkeping-keping. Perjuangan yang harus kita hadapi tersebut sebagai konsekuensi dari ketidaksempurnaan hidup. Siapapun kita, tidak mungkin mengelak dari konsekuensi ini.

Reaksi kita menghadapi permasalahan dan luka dalam hiduplah yang membedakan satu orang dengan yang lain; apakah kita di’tambal’ dengan emas sehingga orang lain akan melihat kita semakin ‘indah’ dan ‘bernilai’? Atau kita membiarkan diri kita tetap hancur, sehingga orang lain hanya melihat ‘kepingan-kepingan’ hidup kita yang jauh dari kata indah?

Bagaimana kita mengumpulkan ‘kepingan’ hidup dan menambalnya dengan ‘emas’ sehingga menjadi karya seni yang indah?

  1. Meyakini bahwa di balik setiap permasalahan dalam hidup kita pasti ada maksud dan tujuan yang baik bagi kita. Apakah permasalahan itu membuat kita menjadi lebih sabar kah, atau lebih dewasa kah? Seperti seorang anak sekolah yang harus berusah payah menghadapi ujian sebelum ia naik kelas.
  2. Gunakan waktu-waktu sulit tersebut sebagai waktu untuk belajar; siapapun dan apapun dapat menjadi ‘guru’ kita. Sebagai contoh: rasa sakit yang dapat membuat kita belajar bahwa sebuah kesehatan merupakan harta yang tidak ternilai. Jangan biarkan masalah dan kesulitan kita menjadi sia-sia karena kita tidak mau belajar, atau kita marah dan pahit akan hidup. Namun manfaatkan untuk menambah ‘ilmu’ kita dalam hidup.

Some Lessons are best learned through pain. Sometimes, our visions clear only after our eyes are washed with tears. Sometimes, we have to be broken so we can be whole again. -Unknown

IMG_5715

NB: saat menuliskan tulisan ini, saya sedang berjuang keras untuk mengumpulkan ‘kepingan-kepingan’ dari permasalahan berat yang dihadapi dan memohon Sang Pencipta saya untuk menyatukan dan menambalnya dengan emas.  Sehingga hidup saya dapat menjadi ‘karya seni’ yang luar biasa seperti #kintsugi.

Advertisements