“PW = Posisi Wueeeenak”

Pernah tahu apa yang dialami oleh seorang anak apabila tumbuh gigi? Beberapa anak pasti akan rewel, sebagian anak lainnya suhu badannya naik dan mengalami demam. Kita mungkin lupa detil apa yang kita rasakan sewaktu kita di masa anak-anak saat mengalami tumbuh gigi, namun bisa kita pastikan ketika itu tidaklah nyaman.

Normalnya sih, manusia (termasuk saya) memang tidak suka dengan ketidaknyamanan. Kecenderungan kita yang alami adalah justru mencari-cari ‘PW’ alias Posisi Wueeeenak, yang bahasa kerennya zona nyaman. Zona nyaman dapat kita artikan sebagai situasi dimana kita merasa sangat aman, nyaman dan santai dalam kondisi kita atau dengan apa yang kita miliki. Menyenangkan ya ‘PW’? Eitssss, jangan hepi dulu. Dalam zona nyaman ternyata mengandung bahaya yang tersembunyi. Seperti sudah otomatis,  saking nyamannya kondisi dapat membuat kita terlena. Kita tidak lagi kita butuh untuk menuntut diri lebih baik dari diri kita yang sekarang, kita juga enggan berupaya lebih, kita enggan untuk mencoba dan berjuang, dan kita enggan berubah.

Kita harus “Nyaman dengan ketidaknyamanan” .. lha apa maksudnya kalimat ini? Ternyata … orang-orang sukses menyadari bahwa kesuksesan berkorelasi erat dengan seberapa banyak rasa tidak nyaman yang dapat kita tanggung. Bila kita mau sukses, kita harus berani tidak nyaman alias minggat dari zona nyaman. Sama halnya dengan anak kecil yang PERLU RELA merasa tidak nyaman, ataupun mengalami rasa sakit untuk memiliki gigi sebagai tanda pertumbuhan. Di dalam ketidaknyamanan, kita akan termotivasi untuk bergerak, mencari jawaban, dan mendapatkan solusi permasalahan, sehingga kita terbiasa dengan ketidaknyamanan kita.

Lalu, bagaimana cara kita ‘nyaman dengan ketidaknyamanan’?

Temukan terlebih dahulu zona nyaman kita. Ada halaman web yang cukup menarik, bila kita hendak mengukur zona nyaman kita, http://www.whatismycomfortzone.com/. Silahkan tes zona nyaman rekan-rekan. Kita dapat mengetahui mengenai zona nyaman kita berdasarkan aspek adrenalin, profesional dan gaya hidup.

Kalau di bawah ini, hasil saya:
Berapa luas area zona nyaman kita?

Berapa luas area zona nyaman kita?

Dari hasil kuis ini, semakin tinggi persentasenya (batasnya di atas 66%) berarti kita telah memperluas zona nyaman (keluar dari zona nyaman kita sebelumnya) kita dan memperluas di sini, dapat kita artikan bahwa kita menjadi nyaman dengan apa yang tadinya tidak nyaman (misalnya responden yang mendapat 90% bisa kita katakan yang bersangkutan sudah nyaman dengan 90% hal-hal yang disebutkan dari kuesionernya). Di web ini, kita juga diberikan informasi apa yang dapat kita lakukan untuk memperluas zona nyaman kita.

Yuks, ‘Minggat’ dari zona nyaman!

Mengapa kita harus keluar dari area nyaman kita?

  1. Berada dalam zona tersebut membuat kita tidak belajar. Secara alami proses belajar terjadi ketika kita keluar untuk menyambut ide dan konsep baru.
  2. Kita tidak berkembang. Kita tidak akan membentuk sikap dan perilaku baru jika kita masih dalam zona nyaman kita. Satu hal yang tetap di jagad raya ini adalah PERUBAHAN dan perubahan itu bukan hal yang nyaman.
  3. Kita terpaku hanya pada perilaku dan pemikiran lama kita. Cara dan strategi lama mungkin tidak lagi berlaku. Masalah tidak dapat diselesaikan, kita menjadi sinis, negatif dan berpikiran sempit. “Pikiran seperti parasut, baru akan berguna setelah terbuka”

Di penghujung tahun 2014 dan memasuki tahun baru 2015, merupakan waktu yang tepat untuk kita mengevaluasi. Apakah kita sudah terlalu nyaman dengan kondisi kita, sampai-sampai kita tidak perlu belajar, tidak perlu menggali pengetahuan dan informasi baru. “Ah, saya kan sudah jago”; “Ah, saya sudah tahu”; “Ah, saya kan yang paling senior” .

Saya punya cara sederhana untuk belajar keluar dari zona nyaman:

  1. Cari sesuatu yang baru, di luar kebiasaan dan cara berpikir kita sebelumnya. Mencoba genre musik atau tontonan di luar genre yang biasa kita nikmati, tergolong hal sederhana dan menyenangkan untuk dilakukan.
  2. Belajar dari orang yang berbeda jauh atau bahkan bertolak belakang dari kita. Dengarkan pendapat, opini, dan coba pahami cara berpikirnya.
  3. Dan untuk saya pribadi, jalan-jalan merupakan cara paling jitu untuk mencari ketidaknyamanan demi minggat dari zona nyaman 🙂

Bagaimana bila sekaligus belajar keluar dari zona nyaman, sekaligus menyusun resolusi di 2015? Yuks, lakukan 3 aktivitas yang belum pernah kita lakukan sebelumnya, lalu evaluasi apa yang kita rasakan, kita pikirkan. Apakah ada pembelajaran baru? Pencerahan? Kalau jawabannya iya, berarti sudah melangkah keluar dari ‘PW’ kita. Enjoy 2015! “Berani nyaman dengan ketidaknyamanan?”

Yuks, Rene ... move out from your comfort zone!

Yuks, Rene … move out from your comfort zone!

Reference:

http://www.forbes.com/sites/margiewarrell/2013/04/22/is-comfort-holding-you-back/

http://www.forbes.com/sites/kathycaprino/2014/05/21/6-ways-pushing-past-your-comfort-zone-is-critical-to-success/

Advertisements