Main Yuksss!

“Tono, jangan main terus, belajar sana!”

(Saat itu Tono sedang bermain menggunakan permainan papan (board game) ‘ular tangga’, sambil menghitung jumlah dadu, dan menggerakkan pionnya dari titik angka awal sampai ke titik angka yang sesuai dengan jumlah dadunya)

Entah berapa kali kita mendengar kalimat diatas diucapkan, apakah saat kita yang mengucapkan sebagai orang tua kepada anak kita, atau kita yang di posisi ‘Tono’ saat kita kecil dulu.

Sebagian besar kita menilai bermain (selalu) bertolak belakang dengan kegiatan bekerja atau belajar. Anak-anak tidak diperbolehkan bermain karena mereka harus belajar, demikian pula orang dewasa, yang kita anggap sudah bukan waktunya lagi untuk bermain; “Sudah besar kok masih bermain, seperti anak kecil saja” demikian mungkin komentar yang sering kita dengar jika ada orang dewasa bermain. Begitu kita menginjak dewasa, seseorang dituntut baik secara personal maupun profesional harus serius dan tidak ada waktu untuk bermain. Oleh karenanya jangan heran, apabila kita mendapati anak-anak yang ogah buat belajar, atau orang dewasa yang mengalami depresi karena selalu serius.

Semua orang suka bermain lho, dan kesukaan ini kita miliki sejak lahir dan ternyata tidak berakhir saat kita meninggalkan masa kanak-kanak. Saat kita beranjak dewasa kita tidak kehilangan kebutuhan kita akan hal-hal baru, kesenangan dan rekreasi. Dan bermain membawa kesenangan, serta penting untuk kemampuan penyelesaian masalah, kreativitas, mengasah ketrampilan inovatif serta hubungan interpersonal. Bahkan menurut Stuart Brown, MD, seorang psikiatris dan pengarang buku ‘Play’, bermain itu bagai oksigen yang melingkupi kita. Bapak Brown telah menghabiskan waktu selama satu dekade untuk meneliti dahsyatnya kekuatan bermain terhadap semua orang dari narapidana sampai dengan pengusaha, dari artis, selebritis sampai pemenang hadiah nobel (tidak kurang dari 6000 studi kasus yang ditangani).

"If you've had a good time playing the game, you're a winner even if you lose" - Malcolm Forbes

“If you’ve had a good time playing the game, you’re a winner even if you lose” – Malcolm Forbes

Aha …. ini kabar gembira bukan? Setidaknya buat saya yang penggila permainan :). Coba saja kita ambil contoh Tono di atas. Bagaimana dengan menggunakan permainan ular tangga sebenarnya ia sedang belajar berhitung? Bagaimana ia mengenal angka 1 sampai 6 di dadunya, dan bagaimana ia bisa belajar tambah-tambahan dari pergerakkan pionnya (sampai angka 100 di papan), serta secara tidak sadar Tono juga belajar berpikir bagaimana caranya ia dapat sampai di angka 100 dengan cepat. Kita yakin, pelajaran berhitung akan menjadi sangat menyenangkan dan waktu yang ditunggu oleh anak-anak.

Ya kaleeeee, itu kan buat anak-anak, cuman kita dah dewasa. Nah, kembali menurut Dr. Stuart Brown sebagai peneliti ahli mengenai bermain, bahwa humor, game, dan fantasi lebih dari sekedar menyenangkan. Banyaknya waktu kita bermain saat kanak-kanak akan menjadikan kita seorang dewasa yang bahagia serta pandai, dan dengan bermain akan tetap menjadikan kita demikian berapapun usia kita. Sebagai contoh dalam penelitiannya, DR. Brown menemukan kurangnya kesempatan bermain sama pentingnya seperti faktor lain yang memprediksi perilaku kriminal para pelaku pembunuhan di penjara Texas. Beliau juga menemukan bermain bersama dapat membantu pasangan mendekatkan hubungan mereka dan menciptakan keintiman emosional di antara keduanya.

Sekarang, apabila bermain itu penting, maka bagaimana kita dapat menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari, atau di dalam pekerjaan kita sehingga dampak positif dalam bermain dapat kita optimalkan? Kita dapat memulai dengan memasukkan unsur-unsur permainan dalam aktivitas harian kita. Hal ini, kita kenal dengan istilah #gamification. Coba perhatikan video di bawah ini.

Bagaimana kita dapat mempengaruhi orang-orang yang lewat di stasiun kereta untuk memilih naik tangga dibandingkan mereka naik eskalator? Bukan hal yang mudah bukan? Akan tetapi contoh dalam video di atas, ketika kita mampu memasukkan unsur bermain yang fun, maka akan tercipta kesenangan meskipun hanya aktivitas naik tangga.

Prinsip-prinsip permainan apa lagi yang bisa kita gabungkan untuk membuat proses kerja kita menyenangkan atau menjadi lebih produktif? Yuks main!

“Play builds the kind of free-and-easy, try-it-out, do-it-yourself character that our future needs” – James L.Hymes Jr.

Reference:

http://psychcentral.com/blog/archives/2012/11/15/the-importance-of-play-for-adults/http://www.ted.com/talks/stuart_brown_says_play_is_more_than_fun_it_s_vital?language=en

Advertisements